Posts

Showing posts with the label THOUGHT

Lompati tembokmu!

Image
Para nelayan menarik perahu ke darat di pantai di Banyuwangi #35mm Seseorang pernah bilang "lompati tembokmu" Satu kalimat yang sungguh general, namun sulit diimplikasikan. Sebuah perintah, sugesti atau doktrin.  Awal-awal kalimat itu muncul, selalu tertentang bahkan hingga menolak "engga! ga mau pake kalimat itu, yaa..  this is me , gamau melewati tembok" tapi, dewasa ini banyak sekali bermunculan berita/info tentang mental health, healing, stress, depresi, dan segala hal yang bermula dari hati, kenangan, perlakuan, tindakan apapun yang muncul entah dari internal maupun eksternal. Semua hal buruk yang menimpa, seakan sulit dikondisikan, tidak ada obat pencaharnya. Hingga akhirnya, otak mencerna segala berita yang lewat dihadapan. Mencerna dengan teori konspirasinya, perasaannya, logikannyaa, serta menggali dari teori-teori para filsuf lainnya.  Lalu, munculah "ada hal-hal yang bisa dikendalikan oleh diri, tapi ada pula hal-hal yang diluar kendali diri". S...

Kenangan

Image
kenangan catatan di tembok (2013) Ada sebuah kenangan yang muncul dipicu oleh harum, oleh wewangian, oleh suara, bebunyian, atau hanya sebuah rasa yang entah datang darimana, namun sesaaat datang lalu berlalu.  Terkadang melenakan, dan membuat seakan ingin diwujudkan kembali, namun banyak yang tak mungkin untuk diwujudkan kembali. Seperti halnya, kenangan masa kecil. Tentu tak mungkin, sangat tidak mungkin. Maka, hanya bisa sekedar menikmati rasa yang hadir itu.  Bahkan mungkin menjadi pengingat bahwa terdapat hikmah dalam setiap peristiwa yang terjadi. Kemudian, harapannya menikmati dan mensyukuri waktu yang sedang dijalani. Enjoying the present . Walau demikian kadang dapat menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi kembali. Silaturahmi dengan apapun yang pernah hadir.  Selayaknya kenangan, terdapat momen, siapa, dimana atau bagaimana, yang sepatutnya menjadi pelajaran. Jika dalam konteks siapa, sesekali memerlukan jalinan silaturahmi yang mungkin sempat terputus, atau se...

Jadi apa maknanya?

Image
  Potongan gambar kajian Ust Felix Pagi ini, entah tiba-tiba di linimasa muncul kajian Ust Felix dengan judul " Jangan Lupa Bahagia ". Padahal ngga ada niat sama sekali untuk ndengerin, karena tujuan buka Youtube untuk mendengarkan stand up comedy :) Few minutes passed . Ust Felix menjelaskan akan hal-hal bagaimana segala sesuatunya bermula dari makna, dari tujuan. Maknanya apa? Tujuannya apa? karena segala sesuatu tidak akan berarti jika memang tidak ada maknanya, tujuannya.  e.g beliau sampaikan, jika ada orang yang tujuannya untuk mendapatkan suatu hal, rintangan apapun akan dijalani, hingga berdarah-darah akan dilalui. Namun jika, tidak ada tujuan untuk mendapatkan suatu hal, maka jalan yang mulus dan mudah akan terasa biasa saja, hambar, atau bahkan terabaikan rasanya.  Contoh lainnya beliau sampaikan bahwa waktu kecil, waktu bermain games adalah di hari Minggu, sehingga ketika hari Minggu tiba, bahagia datang, main games dengan happy dan setelah waktunya selesai u...

Wahai Manusia

Image
#35mm di Pasar Pundong Ada hal-hal yang memang di luar kendali manusia. Mau berusaha sekeras apapun, jika Dia Sang Pencipta belum mengizinkan, maka tidak diizinkan. Mungkin mengizinkan tapi dengan cara yang berbeda, dan dapatnya lebih-lebih dari yang dipintakan. Ada hal-hal yang kadang cukup dengan "yasudah" tapi rasanya kata "yasudah" juga cukup berat dijalankan, walaupun itu adalah kata titik, tidak bisa ditawar. Ada kalimat "dunia tidak akan berubah, semua akan tetap pada orbitnya, hanya manusia saja yang perlu mengendalikan hatinya". Tentu itu hal yang memang benar adanya. Realistis.  Masalah hati memang sulit sekali dicerna, diformulasikan menjadi hal yang bisa disederhanakan. Walaupun sesungguhnya formula sederhananya adalah ikhlas, sabar, dan syukur. Tiga kata yang entah bagaimana caranya untuk diimplementasikan, hanya masing-masing diri manusia yang memahami. Setiap manusia memiliki formulanya sendiri-sendiri. Wahai manusia, makhluk yang paling mul...

Ayolah, hei!

Image
Kapan bisa lebih tenang?  Tenang di dunia? tentu tidak ada batas waktu kapannya, karena dunia memang bukan tempat untuk berleha-leha..... Ada hal-hal yang sulit untuk diungkapkan namun terasa jelas bahwa 'itu tidak nyaman'. Bukan berarti kemudian perlu mendapatkan nasehat bijak bahwa 'terima saja ketidaknyamanan itu'. Betul, tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Alangkah bijaknya disampaikan pada momen yang berbeda. Disaat api sedang membakar hutan yang lebat, timbul ungkapan yang terlihat 'bijak' maka tidak ada pengaruh baik yang hadir.  Dan, selamat belajar.  1341 20211125 Panas-sendu beradu 

Selamat!

Image
  #35mm pagi yang damai Terkait hal-hal yang diluar kendali, dan berusaha untuk tidak meninggalkan jejak-jejak pedih.  Terkait derita-derita yang pernah ada yang menjadi lalu. Terkait rasa yang menjadi beban berat dalam jiwa sekian lama dan punah seketika dalam waktu yang singkat, namun perjalanan yang panjang untuk memutuskannya. Selamat!! Selamat karena mampu memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan, Selamat atas hal yang telah dilalui dengan baik walau tertatih, dan Selamat dengan kegigihan yang penuh.  Hari ini, apakah menang?  Entahlah, menang kalah bukan menjadi hal yang perlu diperdebatkan. Hanya sebuah iming-iming untuk menjadi lebih baik kemudian harus tetap mengkayuh lebih, berpindah, berputar dan berjalan. 261021 17.25 Hidup

Untuk kamu yang lahir, tumbuh, dan menjadi bagian Indonesia

Image
@35mm - pagi di Jogja   Ada beberapa hal yang menggelitik terkait apa yang (sangat booming ini) sedang terjadi.  Terkait hal-hal yang beredar di negara kita ini, Indonesia.  Simpang siur berita, beberapa beranggapan berkubu, beberapa bekerja secara diam, dan beberapa terang-terangan melakukan hal yang secara tidak langsung pasti akan ter- notice oleh khalayak umum. Rasanya ingin menganggapnya biasa saja, dan menjadi hal yang "lumrah" tapi ternyata hati dan pikiran selalu ingin mengulik dan menguliknya, hingga menjadi hal yang sangat muak untuk tinggal dalam tubuh. Pertanyaan yang sering muncul- kenapa Indonesia? kenapa terlahir sebagai warga Indonesia? kenapa menjadi bagian di Indonesia? kenapa hidup di Indonesia? kenapa besar di Indonesia? kenapa garis keturunan orang Indonesia?  Tentu pertanyaan yang jelas-sangat jelas jawabannya? Qada! Garis ketetapan dariNya yang tak seorangpun tau.  Tapi terkadang merasa putus asa dengan apa yang sedang terjadi di bumi (y...

Ilmu tentang hal-hal seharusnya dipikirkan dan tidak

Image
@35mm golden hour in Jogja Beberapa kali mendengarkan (secara tidak sengaja) melalui podcast terkait "teori stoikisme", kemudian lama tak mendengarnya, tiba-tiba muncul (secara tidak sengaja) dalam linimasa terkait bagaimana hidup simple dengan cara memisahkan hal-hal berdasarkan lingkar, yaitu lingkar pengaruh, lingkar peduli, lingkar perhatian. Hinga secara tidak sengaja (lagi-lagi) sedang mendengarkan suatu podcast dimana sang narasumber keceplosan bahwa dirinya sedang belajar mengaplikasikan teori stoikisme. Langsung terkoneksi terhadap definisi/pengertian dari teori tersebut, lalu memutar memori yang telah ada dan mengkaitkannya. Amazingly , bahwa sesungguhnya 2 teori tersebut pada intinya sama. Beberapa orang (kalangan psikolog dan ahli filsafat) menyebutnya dengan teori stoikisme  Dan ada pula seorang anak ulama dengan pembawaaan santai untuk memudahkan hadirin memahami suatu teori agar tetap bermakna, menjabarkanya dengan kalimat Lingkar Pengaruh, Lingkar Peduli, dan...

Award To Myself

Image
@Filosofi Cafe, bekal menuju Bandung Penghargaan perlu, untuk memacu diri menjadi manusia yang lebih baik, atau bahkan mempertahankan sifat baiknya. Memberikan sebuah pernyataan bahwa "telah mampu melewatinya" atau bahkan hanya sebuah "bayaran" bahwa telah berhasil.  Apapun itu, sepatutnya manusia layak mendapatkan penghargaan. Lalu siapa yang memberikannya?  Dalam internal, diri sendiri dapat memberikannya, walau hanya sekedar duduk relax, rebahan, bersantai, a cup of caffeine atau whatever makes you happy, enjoy and let go of your mind. That's verry helpfull.  Dalam ekternal, tentunya melibatkan manusia lain yang mampu memberikannya, atau bahkan secara formal melalui suatu event yang mengusung sebuah penghargaan. Apapun itu, itu baik.  Penghargaan perlu, namun tidak berlebih. Cukup. Seperti halnya sebuah pemberian yang berlebihan, maka akan melenakan dan merasa termanjakan. Hingga muncul kalimat " oh, oke ngga papa " atau " yaudahlah ya ngga pap...

Kota Desa Sama Saja, Yang Beda Pikiran Kita

Image
Sawah di Bantul #35mm Terkadang menjadi orang desa tidak butuh nonton film, mediatasi/yoga, segelas minuman fancy yang melegakan pikiran atau curhat di media sosial   Terkadang ketika suntuk dengan berbagai tuntutan kerjaan atau kebutuhan hanya sekedar jalan berkeliling menghirup udara segar "mau kemana?" | "pusing kepala, mau cari angin" karena mata mematang hijauan, padang padi, gunung dan kabut dengan udara yang menyejukan seketika melegakan perasaan yang berat. Tidak dengan healing melalui "nonton film" atau " curhat via media sosial" karena banyaknya masyarakat yang kadang ikut adil dalam kegembiraan maupun kesedihan. ' Njagong ning cakruk ' alias nongkrong di pos ronda, atau di bawah pohon mangga dengan kaki selonjoran, walau tidak sepenuhnya menghilangkan beban, tapi media sosial yang secara nyata itulah yang kadang membuat hati dan pikiran dapat menilai langsung harus berbuat apa dan bagaimana. Yoga/meditasi hal yang bagus untu...

Apakah demikian?

Image
@lokasi rehabilitasi beruang madu di Kalimantan Timur  #kodakgold200 #35mm Anehnya manusia sebagai makhluk sosial adalah (salah satunya) menjadi tempat yang sangat nyaman, hangat, penuh kebijaksanaan untuk berbagi keluh kesah, senang bahagia, maupun berbagai permasalahan bagi rekan, teman dan sekelilingnya yang diluar lingkaran internal, namun terkadang menjadi kebalikan .  Disaat orang-orang dalam lingkaran internal, bahkan dirinya sendiri merasa bahwa ia menjadi tempat (sosok) yang membingungkan, menjadikan tidak clear, kurang bijaksana atau bahkan unsolutive. Kemudian orang-orang dalam lingkaran internal mencari tempat lain yang (lebih) nyaman, hangat, penuh kebijaksanaan untuk berbagi hal-hal yang dirasa.  Apakah memang demikian? 18.11 280521 Hiruk pikuk, (selalu) di adaptasi

Pikiran, Perasaan dan Kenyataan

Image
@gede pangrango #35mm Pagi ini terasa sendu, bukan sendu sesungguhnya  Hanya sebuah perasaan dan pikiran yang menghantui  Mendengarkan sebuah lagu, lalu tersenyum, lalu sedih, lalu berganti  Lagu lain menjadi lebih hidup, semakin jadi  Entahlah, pikiran dan perasaan ini hanya ingin berlari dari realita yang ada  Yang mengharuskan tubuh duduk tidak santai dengan jari-jari yang menari di atas keyboard laptop Yang mengaharuskan pikiran untuk terus berkonsentrasi sepenuhnya, ditambah informasi dadakan yang sesungguhnya tidak sepenuhnya dadakan  Pikiran dan perasaan ini berjalan tanpa bawah sadar yang tidak sadar namun sedikit sadar  Berjalan ke tempat-tempat yang menimbulkan gemuruh di dada, lalu menginginkan untuk mewujudkan saat itu juga  Tak mungkin, tentu...  Hanya bisa duduk, kembali ke realita dan menjalani apa yang seharusnya dijalani  Bukan karena tidak mau, namun bukan saatnya  Semua malah akan menjadi jadi dan menumpuk seper...

Ada

Image
@museum rupa dan keramik, #35mm Ada alat yang bekerja sangat detail untuk mengetahui kepribadian manusia, menjelaskan hingga deatil-detail sikap yang muncul ketika berada dalam suatu permasalahan Kemudian ia akan dianalisis bagaimana yang seharusnya dilakukan dan sikap seperti apa yang harus dimunculkan, hingga perasaan seperti apa yang semestinya sesuai dengan karakter dan teorinya Ada, ada seluruhnya dalam khayalan Ada, ada tumpukan yang terlupakan, terhempaskan, dan tak disadarkan hingga terkadang disaat berada di momen yang tepat, tumpukan itu muncul kembali, menjadi benteng yang menyesakan, selalu Padahal memang benar adanya, mereka ada dan belum berguguran menjadi abu yang terselesaikan Mereka hanya terlupakan disaat momen datang tak tepat Meraka hanya tak terpedulikan disaat raga menyala dan membakar ruhani Bagaimana seharusnya, menjadikan tumpukan itu selalu ada dan menjadi bayang-bayang semu namun tak terselesaikan jua. Ataukah diledakkan dan kemudian selesai denga...

Di Bawah Jembatan Niat

Image
  Beruang madu di salah satu pusat rehabilitasi di Kalimantan Timur Assalamu’allaikum, Berhari-hari mencoba menggerakkan tangan ini untuk menulis kembali, namun rasanya tidak ada hati dan niat yang sesuai. Dalam rangkaian kata-kata yang sebenarnya banyak sekali untuk dijabarkan, namun lagi-lagi, hati ini tak mampu. Bahkan terkadang mendefinisikan rasa dan pikiran yang tersimpan pada suatu momen saja masih belum bisa. Ini seperti dampak dari penyakit yang secara tidak sadar merubah hati manusia. Hari ini, mencoba menuliskan dan menjabarkan apa yang sedang dirasakan. Walau sejujurnya berat karena tidak mampu mengidentifikasi perasaan mana yang harus ditulis dan dirasakan saat melakukannya, namun dengan terus mengetikkan kata demi kata ini, hati terasa lebih tertata. Bismillah, Hujan di bulan Januari, dengan suasana hening dan hanya terdengar bunyi dari tombol-tombol keypad laptop, dariku maupun dari sosok yang duduk di seberang. Perasaan sedih ini terasa mengalir begitu deras,...

Pikiran Ini Itu

Image
Rasanya ingin segera akhir tahun, karena mengakhiri pekerjaan yang sesungguhnya menyenangkan namun terbungkus dengan menyesakan di perjalanan selanjutnya Rasanya ingin segera akhir tahun, karena mungkin bisa melakukan hal-hal yang ingin dilakukan, tidak berkungkung oleh pikiran sesak akan tugas-tugas kantor yang tidak ingin dikerjakan namun harus dikerjakan (serasa disuruh lari, tapi maunya diem. Ga enak) Namun, ada rasa takut juga. Bagaimana jika nantinya ternyata tidak semenakjubkan yang dipikirkan? Bagaimana jika nantinya malah bosan dan mengeluh-mengeluh dan mengeluh? Bagaimana jika nantinya malah stress karena stay at home dan butuh kerja Banyak sekali yang dipikirkan Padahal jelas, Islam mengajarkan untuk lebih baik tidak berkata "bagaimana jika" karena memang itu belum akan terjadi. Seperti tidak percaya bahwa semua itu akan ditanggung oleh Dia Sang Penguasa Alam. Kalau memang percaya dan mengimani bahwa semua terjadi atas kehendakNya, maka pikiran dan hati akan lebih...

Random

Image
  Kadang, walau seharian tidak melakukan apapun, namun rasa itu muncul. Lelah seketika dengan banyak kejadian yang seharusnya tidak dapat dikatakan bahwa “banyak”. Semua ini seketika ingin mengajakku, untuk lebih sadar akan makna hidup.   Lebih sabar, tenang, bersyukur dan tentu positif Telah banyak hal yang terpikir akan suatu yang menjijikan, walau sesungguhnya tak mengerti apakah benar menjijikan, atau hanya rayuan dan hasutan dari kanan-kiri untuk semakin berpikir jijik Pikiran ini sungguh konyol, ke sana kemari Walau ketika dibaca ulang rasanya malu, namun kenapa tidak untuk hajar saja? Ada rasa yang aneh setelah semua ini akan berakhir, menunggu hingga kadaluarsa tiba. Rasa sabar atau tidak sabar. Semoga semuanya dalam lindunganNya dan ini jalan terbaikNya Keputusan ini begitu ambigu, tidak pasti namun pasti. Perlahan. Mencoba mengetuk segala pintu yang terencana, lalu membiarkan Dia yang memutuskan atas semua tindakan yang direncana. Tapi pertanyaannya, me...

Lingkungan, Lingkaran

Image
Bismillahirrohmannirrohiim Akhir-akhir ini terasa tertampar akan hal yang menjadi dilema setahun terakhir.  Lalu tersadarkan oleh keresahaan yang semakin menjadi   Setelah dirasa dan dipikirkan, memang sesungguhkan lingkungan ini yang tidak baik. Benar memang, kita tidak dapat merubah eksternal, yang bisa dilakukan hanya merubah internal. Walau demikian, ketika ekstenal mengalami hal-hal negativity dan menimbulkan efek buruk pula dengan internal, maka apa yang bisa dilakukan? Menarik diri untuk keluar dari lingkungan tersebut atau menjadi makhluk adaptasi namun berdiri dengan prinsip yang ada. Pilihan kedua menjadi hal yang saat ini diprioritaskan, akan hal satu dengan lainnya menjadikan pilihan pertama tidak untuk dilakukan saat ini, sudah. Sudah mencobanya namun gagal. Gagal untuk menarik diri. Tak mudah ternyata, mengambil pilihan kedua untuk jadi bagian dari hidup. Berbeda dengan seorang minoritas. Lebih dari itu. Jika tidak kuat, maka akan terbawa, terbawa ...

Kembali (lagi)

Image
Yashica FX 200 Super - Fuji C200 - Rawa Pening Kala itu, angin meniup pelan Pelan Perlahan Hingga menyejukan Matahari masih dengan hangat menyinari asa Hawa panas tak terasa Tubuh yang telah hilang meminta tuk meronta Tontaan agar kembali Kembali berdamai, tenang dan bersatu Semua damai Tak apa ramai Seperti pantai Dengan nyiur yang melambai Hati gundah, sirna menua Jiwa terusik, tak minta disisik Semua kembali Bersemilah senyum merekah itu Wahai jiwa yang berilmu Nuntunlah tuk menjamu Pada para tamu Haru biru itu Mengingatkan pada semua suasana yang damai Tenang Jiwa ini tenang -Halo aku kembali- 02032020 10.01 Djakarta

Mari Kembali

Image
Entah bagaimana dan mengapa Rasa hingga tenggorokan itu selalu muncul Ketika ada pemicu Dan sejenak kalimat-kalimat itu hadir Irsalina itu harus bisa sabar Di dunia ini tidak ada yang sesuai dengan keinginanmu Terlebih setelah tidak sendiri Peluang itu akan lebih besar Irsalina itu harus bisa ikhlas Ikhlas menerima apapun yang menjadi keputusan bersama Kalau tidak sejalan?  Yasudah mengalah Rasanya ingin mati rasa saja Kembali cuek, tidak peka  Beberapa kali menjadi orang peka malah membawa beban hati Terlahir tidak peka Lalu tumbuh, belajar menjadi peka Ternyata tidak sepenuhnya harus menerima kepekaan Irsalina itu harus bisa positif thinking Kembali belajar saat kerja di jalan dulu Positif thinking utama Irsalina itu harus bisa seperti dulu lagi Tenang, tidak gengsi, yowes aja ngga papa InsyaAllah semuanya jadi lebih tenang Tenang hatinya, pikirannya, hidupnya Allah itu ngga tidur Bagaimana Al Matsuratmu?  Tadarusmu?  Qiamullai...

Rutinitas atau Adaptasi

Image
Mungkin pertanyaannya adalah “sampai kapan mampu menopang rutinitas?” Termakan rutinitas ngga jauh beda dengan “mungkin ini proses adaptasi”. Semakin membiasakan untuk dianggap sebagai proses adaptasi ternyata bisa menjadi semakin termakan rutinitas. Hal yang seharusnya disimpan baik-baik menjadi suatu yang berharga, bisa terkikis tipis dan lama-lama tidak sadar bahwa hal tersebut terlah terkikis secara perlahan. Kalau tidak sadar betul naudzubillah bisa terlepas, astaugfirullah. Kembali menemukan dan bangkit membangun hal yang berharga itu ternyata tak semudah mengembalikannya seperti semula. Akibat terkikis secara pelahan yang tidak disadari. Atau, mempertahankan yang ada, yang tersisa. Atau, bahagia sejenak tanpa beban. Hilang Lalu ada kembali, kembali berbeban. Seketika saja. Tidak permanen. Setidaknya ada. Harus ada rengekan kecil-kecil dan push dari dalam diri. “semuanya memang kembali ke diri sendiri, mulai dari niatnya. Kalau capek yaa...