Posts

Pertemanan Macam Apa Ini

Image
me: pemencet kokang kemera Betapa beruntungnya aku memiliki kalian. Ah basi!. Kalimat klasik yang… mungkin seperti remah-remah rengginang Kalau ada kalimat yang lebih bermakna dan berestetika. Aku akan menggunakannya. Sayang belum nemu. Berkali-kali menyatakan dengan “entah disebut pertemanan macam apa ini, entah pertemanan macam apa ini namanya, atau entah pertemanan macam apa kita ini” kalimat itu selalu terngiang tiap kali saling bercerita, berbagi, melakukan aktivitas bego yang produktif disela-sela ke- desperate -an tiada ketulungan . Beberapa dari kami sering mengatakan, hal serupa yang pada intinya (dengan kalimatnya masing-masing); “padahal gue ga yakin kadang kalian bingung apa yang gue omongin tapi keinginan kalian memahami itu jadi hal yang sangat membahagiakan banget. Karena ga semua orang mau belajar hal yang bukan bidangnya.” ( Baycaq said ) Seperti halnya diriku, bersama mereka bukan seperti segerombolan geng manusia yang dekat bersatu tak bisa d...

Dunia(ku)

Image
Ada suatu kebahagiaan yang orang lain takkan pernah bisa memahaminya. Dan aku menikmati setiap detiknya. Perjalanan di suatu ujung desa, pulau, dusun atau apapun itu, dimanapun itu dan kapanpun itu. Berada di daerah terpencil, tak ada akses apapun adalah suatu kenyamanan tersendiri. Keindahan yang selalu dibutuhkan oleh diri ini. Aku selalu tidak bisa menjelaskan bagaimana ini terjadi dan mengapa. Tapi semua benar-benar menangkan dari segala gemerlap kebisingan dunia. Ya, dunia. Dunia ini sudah terlalu tua dan penuh. Penuh dengan segala apapun yang terjadi. Rasanya, aku ingin memiliki duniaku sendiri. Dunia damai, tentram tanpa ada kebisingan dan kehebohan yang saat ini terjadi. Tidak peduli dengan politik negeri, kenaikan harga, kemiskinan, kekayaan, kemegahan dan kemelaratan yang terjadi di media maupun nyata. Sedang duniaku muncul pada sela-sela kehidupan. Pada beberapa moment yang terpotong-potong karena belum saatnya untuk berdiri kokoh dan establish . Namun setidakny...

Dunia Yang Penuh

Image
Museum Bank Indonesia, sekedar berjalan-jalan Semakin hari kepala semakin pusing, terasa linglung dan tak berfokus pada satu hal. Seperti orang banyak pikiran. Ya! Banyak pikiran, exactly. Semua seperti mengglobal dipikiran. Antara satu hal dengan hal lainnya saling berkaitan, semakin banyak membaca, semakin banyak melihat dan semakin banyak bercerita membuat diri semakin merasa tak memiliki dan berbuat apa-apa. Nothing ! Sosial masyarakat, kondisi alam, karakter manusia, politik, kondisi negara, lingkungan sekitar, hingga hubungan dengan Sang Pencipta. Secara gamblang tidak bisa diuraikan lewat kalimat panjang, namun secara umum yang terjadi adalah otak ini penuh dengan segala keruwetan dunia. Dunia, dunia, dunia, dunia dan dunia. Penuh, sangat penuh. Penuh dengan kerusuhan dan ketidakpekaan. Lalu memuncak penuh dalam otak. Hingga pada akhirnya terasa sakit di kepala. Karena semakin banyak mengetahui maka semakin banyak merasa belum melalukan apa-apa. Karena semakin b...

Jam Tidur

Image
@Pangkalan Kerinci 3 kali kepergok tidur ngampar di lantai kosan 3 kali tiba-tiba menghilang tanpa suara saat sedang selonjoran pintar dengan teman-teman 3 kali tidur di atas motor, dibonceng saat pulang dari Gili (Lombok), Lampung dan Baduy 2 kali tidur di toilet pas kuliah berkali-kali menjadikan tidur sebagai pembuka saat kuliah, setelah tidur bentar, kuliah jadi konsen berkali-kali toilet dijadikan alternatif ngantuk saat kerja pernah hampir nabrak karena ngantuk saat naik motor dari Puncak Bogor dibully karena tidur saat akan berangkat kondangan, padahal sudah dandan malu saat tidur di masjid tiba-tiba sudah rame orang-orang akan berjamaah sholat Ashar dibilang anemia karena tidur di mobil sepanjang perjalanan Kendal-Pageruyung kelewat stasiun gegara ketiduran di KRL dibangunin satpam KRL karena sudah sampe stasiun tujuan tidur lelap, puless disaat yang lain susah tidur karena rame suatu acara terkapar tidur masih dengan baju kerja, kaos kaki, kerudun...

Ramadhan Tahun Lalu (Menjadi Minoritas)

Image
Asrama heboh penuh kenangan haha Teringat cerita Ramadhan tahun lalu. Entah mengapa, dari sekian banyak kisah Ramadhan-dewasa-rantau(ku). Ramadhan di kota rantauan. Selalu memiliki cerita khasnya tersendiri, selalu. Ramadhan tahun lalu 2017, Ramadhan terlekat. Mungkin karena baru terjadi tahun kemaren. Rasanya masih terngiang-ngiang kenangan saat di sana, ditambah masih seringnya kontak komunikasi dengan kawan-kawan di sana. Masih sangat sering dan bahkan beberapa teman mengingatkan akan momen-momen saat bersama (dulu). Tahun lalu, pertemanan entah bisa disebut apa namanya tapi hal yang sering dilakukan oleh kami bersebelas adalah masak- makan- nge- foodcourt - jajan di Pangkalan Kerinci- pisang coklat- alpukat kocok- ayam geprek- bakso depan ramayana- tahu krispi dan masih banyak makanan dan aktivitas unfaedah lainnya. Tapi pisang coklat dan masak lalu makan bareng memiliki ratting tertinggi karena sering dilakukan. Kumpul di salah satu kamar untuk masak bersama, belanj...

Di Monas

Image
Seperti ada sebuah hal yang rasanya ingin diledakan, mengumpul ditenggorokan dan kepala. Tapi tak bisa diluapkan kepada siapapun.  Hanya bisa diam dan tiba-tiba mungkin air mata jatuh. Mungkin itu salah satu hal yang ingin Tuhan berikan kepada hambaNya, agar tidak terbawa emosi.  Kemudian hanya bisa bercerita kepada Sang Maha Bijaksana. Seketika rasa itu memuncak dan tak bisa berkata apa-apa, ditambah suasana dan tiupan angin yang mengisi. Duduk di atas rumput pendek depan monumen nasional di sore hari dan saat  weekdays ternyata cukup menenangkan, ditengah hiruk pikuk bising ibu kota yang cukup melelahkan pikiran, tenyata bisa membuat luapan timbunan kekesalan di hati seketika meledak. Legaaaaa Ini wisata mainstream yang cukup melegakan pikiran, asal pergi di timing yang tepat. Beberapa kali, mencoba meluapkan segala amarah dan kegundahan yang ada kepada orang sekeliling, teman, saudara atau siapapun malah membuat hati tidak nyaman, lalu hany...

Teman

Image
Akhir-akhir ini, pikiran rasanya muter kemana-mana. Lelah, resah dan gundah layaknya menjadi satu. Entah apa yang mengganjal tapi mulai mencerna dan memahami sesuatu yang membuat tubuh ini lelah selelah-lelahnya, padahal ngga ngapa-ngapain ... Otak ini seperti berputar-putar dan membuat percakapan sendiri. Diri ini dengan diri ini. Bercakap panjang sampai rasanya gila sendiri. Lalu, tiba-tiba teringat kata dari seseorang (sekitar setahun lalu) yang menyatakan bahwa "sepertinya kalau dilihat-lihat dirimu ini tidak punya teman..." seketika merasa cukup menohok. Entah apa yang dia pikirkan hingga mengatakan demikian. Bukan kalimatnya adalah sebuah realita, fakta atau opini semata. Tapi, sejauh itukah dia mengamati diriku? hingga menyimpulkan bahwa diri ini tak memiliki kawan. Terlebih, dia mengatakan bukan dari permintaanku, bukan pula saat sesi curhat dan dimintai pendapat, bukan juga ketika bercanda. Dia mengatakannya disaat hati ini sedang bahagia melihat pertunjukan se...