Posts

Kota Desa Sama Saja, Yang Beda Pikiran Kita

Image
Sawah di Bantul #35mm Terkadang menjadi orang desa tidak butuh nonton film, mediatasi/yoga, segelas minuman fancy yang melegakan pikiran atau curhat di media sosial   Terkadang ketika suntuk dengan berbagai tuntutan kerjaan atau kebutuhan hanya sekedar jalan berkeliling menghirup udara segar "mau kemana?" | "pusing kepala, mau cari angin" karena mata mematang hijauan, padang padi, gunung dan kabut dengan udara yang menyejukan seketika melegakan perasaan yang berat. Tidak dengan healing melalui "nonton film" atau " curhat via media sosial" karena banyaknya masyarakat yang kadang ikut adil dalam kegembiraan maupun kesedihan. ' Njagong ning cakruk ' alias nongkrong di pos ronda, atau di bawah pohon mangga dengan kaki selonjoran, walau tidak sepenuhnya menghilangkan beban, tapi media sosial yang secara nyata itulah yang kadang membuat hati dan pikiran dapat menilai langsung harus berbuat apa dan bagaimana. Yoga/meditasi hal yang bagus untu...

Ngimpi G*mblung

Image
di atas moda transportasi roda 4; yashica electro #35mm Jadi, bapak mau nyalon tahun berapa? Percakapan random yang membawa otak untuk berpikir keras dalam menjawab ini terjadi dalam perjalanan dadakan bermoda transportasi umum roda 4.  Entah mulai darimana, tapi sungguh sangat jelas bermula dari kata "njih pak". Kemudian sepasang manusia yang amatir ini, mencoba menerka bahwa sang pengemudi adalah warga suku Jawa. Kemudian berlanjut dengan obrolan bermuatan bahasa jawa. Alih-alih hanya basa basi, malah berlanjut panjang dan 1,5 jam perjalanan penuh dengan obrolan a i u e o. Hingga dapat dirangkum secara singkat karena banyak obrolan sensitif jadi sebaiknya tidak dituliskan.  Sehingga intinya menjadi... Q: Jadi kalau bapak mau nyalon apa nih? A: Kalau saya sebenernya pengen lurah saja sih pak. Dari tapak. Q: Lurah sama kedes beda loh A: Oiyaya? hemm lurah mungkin ya Q: Dimana pak? Jogja? A: Kayanya sulit kalau Jogja pak, saya mau mencoba di Kendal ajalah. Di sana lebih banyak...

Apakah demikian?

Image
@lokasi rehabilitasi beruang madu di Kalimantan Timur  #kodakgold200 #35mm Anehnya manusia sebagai makhluk sosial adalah (salah satunya) menjadi tempat yang sangat nyaman, hangat, penuh kebijaksanaan untuk berbagi keluh kesah, senang bahagia, maupun berbagai permasalahan bagi rekan, teman dan sekelilingnya yang diluar lingkaran internal, namun terkadang menjadi kebalikan .  Disaat orang-orang dalam lingkaran internal, bahkan dirinya sendiri merasa bahwa ia menjadi tempat (sosok) yang membingungkan, menjadikan tidak clear, kurang bijaksana atau bahkan unsolutive. Kemudian orang-orang dalam lingkaran internal mencari tempat lain yang (lebih) nyaman, hangat, penuh kebijaksanaan untuk berbagi hal-hal yang dirasa.  Apakah memang demikian? 18.11 280521 Hiruk pikuk, (selalu) di adaptasi

Pikiran, Perasaan dan Kenyataan

Image
@gede pangrango #35mm Pagi ini terasa sendu, bukan sendu sesungguhnya  Hanya sebuah perasaan dan pikiran yang menghantui  Mendengarkan sebuah lagu, lalu tersenyum, lalu sedih, lalu berganti  Lagu lain menjadi lebih hidup, semakin jadi  Entahlah, pikiran dan perasaan ini hanya ingin berlari dari realita yang ada  Yang mengharuskan tubuh duduk tidak santai dengan jari-jari yang menari di atas keyboard laptop Yang mengaharuskan pikiran untuk terus berkonsentrasi sepenuhnya, ditambah informasi dadakan yang sesungguhnya tidak sepenuhnya dadakan  Pikiran dan perasaan ini berjalan tanpa bawah sadar yang tidak sadar namun sedikit sadar  Berjalan ke tempat-tempat yang menimbulkan gemuruh di dada, lalu menginginkan untuk mewujudkan saat itu juga  Tak mungkin, tentu...  Hanya bisa duduk, kembali ke realita dan menjalani apa yang seharusnya dijalani  Bukan karena tidak mau, namun bukan saatnya  Semua malah akan menjadi jadi dan menumpuk seper...

Ada

Image
@museum rupa dan keramik, #35mm Ada alat yang bekerja sangat detail untuk mengetahui kepribadian manusia, menjelaskan hingga deatil-detail sikap yang muncul ketika berada dalam suatu permasalahan Kemudian ia akan dianalisis bagaimana yang seharusnya dilakukan dan sikap seperti apa yang harus dimunculkan, hingga perasaan seperti apa yang semestinya sesuai dengan karakter dan teorinya Ada, ada seluruhnya dalam khayalan Ada, ada tumpukan yang terlupakan, terhempaskan, dan tak disadarkan hingga terkadang disaat berada di momen yang tepat, tumpukan itu muncul kembali, menjadi benteng yang menyesakan, selalu Padahal memang benar adanya, mereka ada dan belum berguguran menjadi abu yang terselesaikan Mereka hanya terlupakan disaat momen datang tak tepat Meraka hanya tak terpedulikan disaat raga menyala dan membakar ruhani Bagaimana seharusnya, menjadikan tumpukan itu selalu ada dan menjadi bayang-bayang semu namun tak terselesaikan jua. Ataukah diledakkan dan kemudian selesai denga...

Di Bawah Jembatan Niat

Image
  Beruang madu di salah satu pusat rehabilitasi di Kalimantan Timur Assalamu’allaikum, Berhari-hari mencoba menggerakkan tangan ini untuk menulis kembali, namun rasanya tidak ada hati dan niat yang sesuai. Dalam rangkaian kata-kata yang sebenarnya banyak sekali untuk dijabarkan, namun lagi-lagi, hati ini tak mampu. Bahkan terkadang mendefinisikan rasa dan pikiran yang tersimpan pada suatu momen saja masih belum bisa. Ini seperti dampak dari penyakit yang secara tidak sadar merubah hati manusia. Hari ini, mencoba menuliskan dan menjabarkan apa yang sedang dirasakan. Walau sejujurnya berat karena tidak mampu mengidentifikasi perasaan mana yang harus ditulis dan dirasakan saat melakukannya, namun dengan terus mengetikkan kata demi kata ini, hati terasa lebih tertata. Bismillah, Hujan di bulan Januari, dengan suasana hening dan hanya terdengar bunyi dari tombol-tombol keypad laptop, dariku maupun dari sosok yang duduk di seberang. Perasaan sedih ini terasa mengalir begitu deras,...

Pikiran Ini Itu

Image
Rasanya ingin segera akhir tahun, karena mengakhiri pekerjaan yang sesungguhnya menyenangkan namun terbungkus dengan menyesakan di perjalanan selanjutnya Rasanya ingin segera akhir tahun, karena mungkin bisa melakukan hal-hal yang ingin dilakukan, tidak berkungkung oleh pikiran sesak akan tugas-tugas kantor yang tidak ingin dikerjakan namun harus dikerjakan (serasa disuruh lari, tapi maunya diem. Ga enak) Namun, ada rasa takut juga. Bagaimana jika nantinya ternyata tidak semenakjubkan yang dipikirkan? Bagaimana jika nantinya malah bosan dan mengeluh-mengeluh dan mengeluh? Bagaimana jika nantinya malah stress karena stay at home dan butuh kerja Banyak sekali yang dipikirkan Padahal jelas, Islam mengajarkan untuk lebih baik tidak berkata "bagaimana jika" karena memang itu belum akan terjadi. Seperti tidak percaya bahwa semua itu akan ditanggung oleh Dia Sang Penguasa Alam. Kalau memang percaya dan mengimani bahwa semua terjadi atas kehendakNya, maka pikiran dan hati akan lebih...